<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Edi Psw&#039;s Weblog &#187; Motivasi</title>
	<atom:link href="http://www.edipsw.com/category/motivasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.edipsw.com</link>
	<description>Merangkai kata tentang sisi lain hidup dan kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 28 Feb 2012 06:05:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.3</generator>
		<item>
		<title>Prihatin Calon Generasi Muda Sekarang</title>
		<link>http://www.edipsw.com/opini/prihatin-calon-generasi-muda-sekarang/</link>
		<comments>http://www.edipsw.com/opini/prihatin-calon-generasi-muda-sekarang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Mar 2008 05:35:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edi Psw</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[generasi]]></category>
		<category><![CDATA[generasi muda]]></category>
		<category><![CDATA[prihatin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edipsw.com/?p=148</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin kita pernah mendengar lirik salah satu lagu hit yang dibawakan oleh Matta seperti di bawah ini : O oo&#8230; kamu ketahuan, pacaran lagi Dengan dirinya, teman baikku Tapi tak mengapa aku tak heran Karena dirimu cinta sesaatku Atau lirik lagu &#8220;Makhluk Tuhan Paling Sexy&#8221; dari Mulan Jameela yang sekarang lagi ngetren : Otakmu sexy, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Mungkin kita pernah mendengar lirik salah satu lagu hit yang dibawakan oleh Matta seperti di bawah ini :</p>
<blockquote><p>O oo&#8230; kamu ketahuan, pacaran lagi<br />
Dengan dirinya, teman baikku<br />
Tapi tak mengapa aku tak heran<br />
Karena dirimu cinta sesaatku</p></blockquote>
<p align="justify">Atau lirik lagu &#8220;Makhluk Tuhan Paling Sexy&#8221; dari Mulan Jameela yang sekarang lagi ngetren :</p>
<blockquote><p>Otakmu sexy,  itu terbukti<br />
Dari caramu memikirkan aku<br />
Matamu sexy, itu terbukti<br />
Dari caramu menatap aku<br />
Ah… ku seperti ada di dalam penjara cintamu</p></blockquote>
<p align="justify">Dan masih banyak lirik lagu yang pernah ngetren yang beredar di pasaran yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu karena saking banyaknya.</p>
<p align="justify"> Saya tidak akan berbicara tentang siapa yang menciptakan lagu itu atau siapa yang menyanyikan lagu itu karena mungkin tidak terlalu menarik bagi saya. Yang lebih menarik barangkali kalau lagu tersebut dinyanyikan oleh seorang anak yang baru kelas 1 SD seperti tetangga sebelah rumah saya. <span id="more-148"></span>Anak yang baru berumur sekitar 6-7 tahunan itu sudah terbiasa menyanyikan lagu-lagu itu. Dengan begitu entengnya dia menyuarakan lagu tersebut dengan suara lantang. Dari awal lagu hingga dengan akhir lagu, walaupun masih dengan suara polos. Dari irama yang dibawakannya nampaklah bahwa dia begitu hafal dengan lirik lagu itu. Hebatnya lagi, dia lebih hafal daripada  saya walaupun sebenarnya saya mantan gitaris band yang dulu sudah biasa membawakan lagu-lagu seperti itu. Apalagi kalau ada acara musik di salah satu stasiun televisi. Dia tidak akan pernah ketinggalan  untuk menonton. Bahkan tidak jarang dia ikut bernyanyi dengan suara yang lebih keras hingga terdengar dari rumah saya.</p>
<p align="justify"> Yang menjadi pertanyaan, banggakah kita sebagai orang tua jika mempunyai anak seperti itu? Atau justru sebaliknya? Berbagai pendapat mungkin berbeda-beda. Tapi kalau saya lihat dari sisi yang lain, justru saya merasa prihatin dengan kemampuan anak itu. Prihatin dalam arti, anak seusia dia sebenarnya belum pantas untuk menyanyikan lagu-lagu itu.  Lagu-lagu itu hanya pantas untuk dinyanyikan oleh anak remaja seusia anak SMA. Anak seusia dia sebenarnya masih dalam proses pembentukan akhlak. Dia mempunyai rasa ingin tahu yang sangat besar. Biasanya, dia ingin mempraktekkan segala sesuai yang pernah dia lihat. Seperti dalam kasus anak kecil yang melompat dari lantai 2 karena menirukan aksi superman. Jiwa mereka masih labil dan perlu ditanamkan budi pekerti yang luhur agar kelak menjadi generasi muda yang berguna.</p>
<p align="justify">Memang tak bisa dipungkiri, bahwa anak-anak jaman dulu sangat jauh berbeda dengan anak-anak jaman sekarang. Pada saat saya masih kelas 1 SD dulu, saya belum mengenal lagu-lagu semacam ini. Lagu-lagu yang saya nyanyikan pun hanya sebatas lagu-lagu yang diajarkan oleh guru-guru di sekolah, seperti lagu Garuda Pancasila, Padamu Negeri, dan lain-lain. Itu harus dihafalkan, dan belum mengenal lagu-lagu untuk kalangan remaja. Berbeda dengan anak-anak jaman sekarang. Mereka kurang hafal dengan lagu-lagu yang diajarkan di sekolah, tapi justru lebih hafal dengan lagu-lagu kalangan remaja. Sungguh ironis. Terus, bagaimana dengan nasib negara kita dalam beberapa puluh tahun lagi kalau mempunyai calon generasi muda yang seperti ini? Bagaimana dengan sikap nasionalismenya? Apakah berani mengorbankan jiwa dan raga demi membela nusa dan bangsa? Tentunya, waktulah kelak yang akan menjawab.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.edipsw.com/opini/prihatin-calon-generasi-muda-sekarang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>65</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemahaman Konsep Siap Pakai</title>
		<link>http://www.edipsw.com/opini/pemahaman-konsep-siap-pakai/</link>
		<comments>http://www.edipsw.com/opini/pemahaman-konsep-siap-pakai/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Feb 2008 01:17:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edi Psw</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Outbound]]></category>
		<category><![CDATA[ketrampilan]]></category>
		<category><![CDATA[lulusan]]></category>
		<category><![CDATA[mental]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[siap pakai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edipsw.com/?p=134</guid>
		<description><![CDATA[Pada postingan saya terdahulu yang bisa dibaca di sini telah saya uraikan tentang Tujuan Pendidikan dan pengertian dari Siap Pakai. Juga telah saya gambarkan tentang struktur Siap Pakai yang meliputi Siap Pakai Ketrampilan dan Siap Pakai Mental. Dimana Siap Pakai Ketrampilan terdiri dari Siap Pakai Teori dan Siap Pakai Praktek. Sedangkan Siap Pakai Mental terdiri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Pada postingan saya terdahulu yang bisa dibaca <a href="http://edipsw.com/?p=115" title="Apakah Tujuan Pendidikan?" target="_blank">di sini</a> telah saya uraikan tentang Tujuan Pendidikan dan pengertian dari Siap Pakai. Juga telah saya gambarkan tentang struktur Siap Pakai yang meliputi Siap Pakai Ketrampilan dan Siap Pakai Mental. Dimana Siap Pakai Ketrampilan terdiri dari Siap Pakai Teori dan Siap Pakai Praktek. Sedangkan Siap Pakai Mental terdiri dari Mengenal Diri Sendiri, Mengenal Lingkungan, Membangun Impian, dan Mampu Bersosialisasi.</p>
<p align="justify">Di beberapa lembaga pendidikan yang pernah saya kunjungi banyak yang mencanangkan tentang program siap pakai, dimana para lulusan dari lembaga pendidikan tersebut diharapkan menjadi tenaga yang siap pakai. Begitu lulus mereka diharapkan bisa langsung mendapatkan pekerjaan. Tapi kenyataannya jauh berbeda. Ternyata masih banyak juga para lulusan yang masih menganggur. Mereka gagal bukan karena siapa-siapa tapi karena mereka sendiri. Mereka kurang memahami tentang konsep siap pakai yang diajarkan. Seperti halnya memancing. Orang memancing itu, tentunya ada yang mendapatkan ikan dan ada juga yang tidak mendapatkan apa-apa. Kenapa bisa begitu? Padahal alat yang digunakan sama yaitu pancing dan umpan. Karena orang yang mendapatkan ikan banyak, mereka sangat mengenal ilmu memancing mulai dari mengenali karakteristik pancingnya, mengenali jenis kail yang digunakan bahkan mengenal ikan yang akan dipancing untuk menentukan umpan  yang digunakan. Sedangkan orang yang tidak mendapatkan apa-apa ini kurang memahami tentang ilmu memancing. Mereka hanya sekedar memancing saja. Mereka tidak mengenali jenis umpan yang digunakan untuk memancing. Dan tentu saja hasilnya akan siap-sia saja.<span id="more-134"></span></p>
<p align="justify">Demikian pula tentang konsep Siap Pakai. Banyak kegagalan-kegagalan terjadi karena mereka kurang memahami tentang konsep Siap Pakai. Saya gambarkan lagi tentang struktur dari Siap Pakai seperti di bawah ini :</p>
<p align="justify"> <a href="http://edipsw.com/wp-content/uploads/2008/02/skema-siap-pakai.jpg" title="skema-siap-pakai.jpg"><img src="http://edipsw.com/wp-content/uploads/2008/02/skema-siap-pakai.jpg" alt="skema-siap-pakai.jpg" /></a></p>
<p align="justify">Dalam hal ini Siap Pakai terdiri dari Siap Pakai Ketrampilan dan Siap Pakai Mental. Jadi seseorang dapat dikatakan Siap Pakai jika memiliki Siap Pakai Ketrampilan dan Siap Pakai Mental yang seimbang.</p>
<p align="justify">Siap Pakai Ketrampilan identik dengan kata “diperintah” sedangkan Siap Pakai Mental identik dengan kata “memerintah”. Dua kata ini selalu mengiringi kita dimanapun kita berada, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di tempat kerja. Seorang direktur atau manajer cenderung memerintah daripada diperintah. Sedangkan staff cenderung diperintah. Dari sini sudah dapat dilihat bahwa seorang direktur atau manajer memiliki Siap Pakai Mental yang lebih dominan daripada Siap Pakai Ketrampilan. Sedangkan staf yang cenderung diperintah ini memiliki Siap Pakai Ketrampilan yang lebih dominan daripada Siap Pakai Mental</p>
<p align="justify">Inilah yang membedakan antara pendidikan di negara kita dengan pendidikan di negara lain. Pendidikan di negara kita hanya mengedepankan tentang pembinaan ketrampilan sehingga kalaupun menjadi tenaga yang siap pakai hanyalah siap pakai ketrampilan yang dimiliki, sehingga di perusahaan hanya menduduki posisi staff. Sebaliknya dengan pendidikan di luar negeri mengedepankan tentang pendidikan mental sehingga di perusahaan bisa menempati jabatan yang lebih tinggi. Itulah sebabnya kenapa perusahaan-perusahaan besar di negara kita lebih mempercayakan kepada orang-orang dari luar negeri untuk menduduki posisi vital di dalam perusahaan tersebut.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.edipsw.com/opini/pemahaman-konsep-siap-pakai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

