Download! Download Smart Rapor Entry versi terbaru

Lima Hari Menjadi Kuli

Hidup di kota besar seperti di Surabaya memang sangat berat karena dihadapkan dengan ketatnya persaingan hidup. Peluang kerja di kota besar memang prosentasenya lebih banyak jika dibandingkan dengan peluang kerja di kota kecil. Tapi kalau tidak dibekali dengan ketrampilan yang memadai, bisa-bisa bukan pekerjaan yang didapatkan tetapi malah pengangguran.

Hidup adalah sebuah pilihan. Apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, sebenarnya hanyalah pilihan-pilihan belaka. Pilihan-pilihan yang telah kita pilih, akan menghasilkan pilihan-pilihan berikutnya hingga sampailah kita pada keadaan sekarang ini. Mampukah kita menjalani pilihan kita dengan keikhlasan hati, atau memandang itu semua sebagai penyesalan diri? Jawaban tentunya ada pada diri kita masing-masing.

Bekerja sebagai kuli bangunan mungkin bukanlah pekerjaan yang kita inginkan. Berangkat pagi pulang malam, banyaknya tenaga yang dikeluarkan dalam seharian seakan tidak sebanding dengan upah yang didapatkannya. Namun, itu semua jauh lebih baik daripada menjadi pengemis atau gelandangan di jalan.

Paling tidak, itulah yang saya rasakan dan saya alami dalam 5 hari ini. Mirip dengan tayangan β€œJika Aku Menjadi” di salah satu stasiun TV swasta. Saya ikut merasakan bahwa ternyata menjadi kuli bangunan itu sangat berat dan melelahkan. Kucuran keringat di tubuh sudah tidak dihiraukan lagi.

Kisah ini bermula saat saya mencari kuli bangunan untuk merombak bagian belakang rumah saya, hari Minggu (23/11) kemarin. Bagian-bagian rumah yang dibangun oleh pihak developer sebenarnya sudah cukup bagus, namun masih perlu ada pembenahan di sana-sini sebelum saya tempati beberapa hari lagi.

Saya dipertemukan dengan salah seoarang kuli bangunan oleh teman saya. Dari pertemuan itu dihasilkan kesepakatan tentang pembayaran upah mereka.

Hari Kamis (27/11) yang merupakan hari ke-1 proyek pengerjaan rumah dimulai. Tukang dan kuli bangunan dengan sigapnya merombak halaman belakang, dinding dan pintu tengah dijebol, jendela pun dicopot, kemudian dinding belakang ditinggikan hingga setinggi atap. Dinding kiri dan kanan juga begitu.

Saya kebagian tugas meng-ayak pasir. Pasir yang sudah di-ayak oleh kuli, saya teruskan hingga hampir separuhnya. Sudah bisa ditebak, sayapun akhirnya kecapean. Itu masih belum cukup, setelah istirahat sejenak, saya kembali mengangkat batubata dari halaman depan ke halaman belakang hingga tak tersisa. Hari ke-1, melelahkan.

Hari ke-2, tukang dan kuli bangunan memasang atap dan talang, kemudian dilanjutkan dengan melapisi dinding dengan semen.

Saya membongkar paving yang ada di halaman belakang karena halaman belakang akan ditutup dan lantainya diganti dengan keramik. Semua paving sementara dipindah ke halaman depan dulu.

Saya membeli pasir lagi, karena pasir yang dibeli kemarin ternyata masih kurang. Semennya pun ternyata harus menambah 1 sak lagi. Hari ke-2 juga melelahkan.

Hari ke-3, tukang dan kuli bangunan memasang kayu penyangga pada dinding yang tadinya dijebol, kemudian dilanjutkan memasang keramik di bagian belakang. Kuli bangunan menggergaji papan menjadi beberapa bagian.

Saya mendapat tugas untuk membeli keramik, cat, beberapa lembar papan, dan triplek untuk menutup bagian belakang. Kemudian dilanjutkan dengan membuang gragal ke lahan kosong yang ada di blok lain menggunakan gerobak kecil. Cukup melelahkan karena harus bolak-balik sampai 5 kali. Hari ke-3, paling melelahkan.

Hari ke-4, kuli bangunannya tidak bisa datang karena sedang sakit, mungkin kecapean. Tukang bangunan hanya membuat rak kayu yang menempel di dinding.

Saya hanya membantu mengecat sedikit-sedikit, sambil beberapa kali menyerap ilmu pertukangan agar bisa memperbaiki rumah sendiri kelak. Hari ke-4, paling menyenangkan.

Hari ke-5, tukang mengecat dinding belakang, mengecat rak kayu, sedangkan kuli bangunan meratakan tanah di taman menggunakan cangkul.

Saya memasang paving di ujung carport, ditata sedemikian rupa agar menarik. Dilanjutkan dengan sedikit-sedikit menata area taman. Hari ke-5, cukup melelahkan.

Begitulah perjalanan saya di β€œLima Hari Menjadi Kuli” yang sangat melelahkan karena seluruh pekerjaan dimulai dari jam 7 pagi hingga jam 5 sore. Saya baru sadar setelah saya merasakan sendiri, ternyata menjadi kuli bangunan itu sangat berat. Badan saya menjadi sakit semua apalagi kalau malam hari. Tapi, paling tidak saya bisa mengambil hikmahnya dari semua ini. Saya harus lebih banyak bersyukur, bahwa pekerjaan seorang guru itu lebih ringan daripada seorang kuli.

Komentar

Tags:,
83 Comments