Download! Download Smart Rapor Entry versi terbaru

Mengais Rejeki di Idul Adha

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, tahun ini saya mengikuti sholat Idul Adha 1429 H di Masjid Kemayoran Surabaya. Seperti biasa, masjid Kemayoran selalu dipadati para jamaah, baik masyarakat sekitar masjid maupun masyarakat dari wilayah lain. Mereka berbondong-bondong men- datangi masjid megah yang didirikan oleh Yayasan Ta’miriyah ini untuk melaksanakan sholat Idul Adha.

Karena tidak bisa menampung seluruh jamaah yang datang, maka Jalan Indrapura yang lebarnya kurang lebih 15 meter itu digunakan sebagai tempat untuk melaksanakan shalat Idul Adha, sehingga sejak pagi semua kendaraan pribadi maupun kendaraan umum yang melintas menuju jalan ini dibelokkan ke jalan lain.

Jam 06.00 WIB sholat Idul Adha dimulai kemudian dilanjutkan dengan ceramah agama oleh salah seorang ustadz. Sayangnya, ceramah agama ini kurang mendapat respon dari para jamaah, terbukti dengan banyaknya jamaah yang meninggalkan tempat sebelum ceramah agama itu selesai.

Barangkali yang manarik perhatian saya bukan pada pelaksanaan sholad Idul Adha itu sendiri, tapi aktivitas sebagian orang yang memanfaatkan momentum sholat Idul Adha ini untuk mengais rejeki. Salah satunya adalah para pemulung.

Pemulung sepertinya sudah ketiban rejeki, mereka berebut mengumpulkan koran bekas alas sholat yang digunakan oleh para jamaah untuk dijual kembali. Mereka tak peduli apakah ceramah agama sudah selesai atau belum. Mereka juga tak peduli bahwa apa yang dilakukannya dilihat oleh orang banyak, termasuk saya.

Sejak sholat Idul Adha selesai kemudian dilanjutkan dengan ceramah agama, saya selalu memperhatikan aktivitas mereka. Dengan kedua tangannya yang hitam kecoklatan, mereka dengan sigapnya meraih ceceran-ceceran koran yang ada di jalan, dikumpulkan untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam kantong besar.

Keterangan Foto :

Foto 2 : Banyak tempat yang sudah kosong meskipun ceramah belum selesai.
Foto 3 : Salah seorang pemulung yang sedang memungut koran bekas.
Foto 4 : Koran dalam kantong besar yang siap untuk dijual.

Bagi sebagian orang mungkin menganggap pekerjaan ini sesuatu yang hina, tapi sebagian orang menilainya dengan acungan jempol, kagum terhadap kerja keras mereka dalam mencari rejeki yang halal untuk menafkahi anak-istrinya di rumah.

Saya berusaha mencari momentum yang pas untuk mengambil gambar mereka. Kamera HP Nokia 6275i selalu dalam genggaman tangan saya dan dalam kondisi siap jepret. Sayangnya, para pemulung itu selalu dalam posisi yang jauh dengan tempat saya duduk. Dan pada saat salah seorang pemulung mendekat untuk memungut koran di depan saya, langsung saja jepret … jepret … jepret.

Komentar

96 Comments