<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Pemahaman Konsep Siap Pakai</title>
	<atom:link href="http://www.edipsw.com/opini/pemahaman-konsep-siap-pakai/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.edipsw.com/opini/pemahaman-konsep-siap-pakai/</link>
	<description>Merangkai kata tentang sisi lain hidup dan kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 09:39:00 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.3</generator>
	<item>
		<title>Oleh: Juliach</title>
		<link>http://www.edipsw.com/opini/pemahaman-konsep-siap-pakai/#comment-1107</link>
		<dc:creator>Juliach</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 03 Mar 2008 11:36:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://edipsw.com/?p=134#comment-1107</guid>
		<description>Banyak orang Indonesia tidak punya pengalaman dalam sehari-harinya. Misalnya saja: Mayoritas pria tidak bisa memasak, Insinyur Sipil/arsitek tidak bisa nukang, jadi hanya hitungan saja. dll. Hal ini disebabkan kita biasa dimanja dengan kemudahan-kemudahan: pembantu, tukang, sopir, warteg dll.

Lain lagi di luar negeri. Saking tenaga itu mahal sekali, orang-orang terdidik jadi mandiri. Kalau mau hidup kecukupan, ya harus masak sendiri. Makan di restoran terus bisa bikin bangkrut. Renovasi rumah, ya harus sendiri, plus ditambah dengan pendidikan sekolah. Jadi hasilnya lebih mantep. Mereka suka coba-coba untuk mendapatkan hasil semurah mungkin dan segampang mungkin mengerjakannya.

Tetapi pendapat anda juga saya sangkal :
&quot; Sebaliknya dengan pendidikan di luar negeri mengedepankan tentang pendidikan mental sehingga di perusahaan bisa menempati jabatan yang lebih tinggi. Itulah sebabnya kenapa perusahaan-perusahaan besar di negara kita lebih mempercayakan kepada orang-orang dari luar negeri untuk menduduki posisi vital di dalam perusahaan tersebut&quot;

Mengapa? Karena perusahaan besar itu bego dan angkuh. Sebener lulusan luar negeri itu tidak jauh berbeda dengan lulusan dalam negeri. Begonya: mereka masih dan lebih percaya (bahkan bangga) dengan &quot;MERK LUAR NEGERI&quot;.

Kapan ya kita menghargai produk dalam negeri?

&lt;em&gt;Juliach&#039;s last blog post..&lt;a href=&#039;http://juliach.wordpress.com/2008/03/03/santailah-mak/&#039; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Santailah, Mak!&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak orang Indonesia tidak punya pengalaman dalam sehari-harinya. Misalnya saja: Mayoritas pria tidak bisa memasak, Insinyur Sipil/arsitek tidak bisa nukang, jadi hanya hitungan saja. dll. Hal ini disebabkan kita biasa dimanja dengan kemudahan-kemudahan: pembantu, tukang, sopir, warteg dll.</p>
<p>Lain lagi di luar negeri. Saking tenaga itu mahal sekali, orang-orang terdidik jadi mandiri. Kalau mau hidup kecukupan, ya harus masak sendiri. Makan di restoran terus bisa bikin bangkrut. Renovasi rumah, ya harus sendiri, plus ditambah dengan pendidikan sekolah. Jadi hasilnya lebih mantep. Mereka suka coba-coba untuk mendapatkan hasil semurah mungkin dan segampang mungkin mengerjakannya.</p>
<p>Tetapi pendapat anda juga saya sangkal :<br />
&#8221; Sebaliknya dengan pendidikan di luar negeri mengedepankan tentang pendidikan mental sehingga di perusahaan bisa menempati jabatan yang lebih tinggi. Itulah sebabnya kenapa perusahaan-perusahaan besar di negara kita lebih mempercayakan kepada orang-orang dari luar negeri untuk menduduki posisi vital di dalam perusahaan tersebut&#8221;</p>
<p>Mengapa? Karena perusahaan besar itu bego dan angkuh. Sebener lulusan luar negeri itu tidak jauh berbeda dengan lulusan dalam negeri. Begonya: mereka masih dan lebih percaya (bahkan bangga) dengan &#8220;MERK LUAR NEGERI&#8221;.</p>
<p>Kapan ya kita menghargai produk dalam negeri?</p>
<p><em>Juliach&#8217;s last blog post..<a href='http://juliach.wordpress.com/2008/03/03/santailah-mak/' rel="nofollow">Santailah, Mak!</a></em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Edi Psw</title>
		<link>http://www.edipsw.com/opini/pemahaman-konsep-siap-pakai/#comment-1064</link>
		<dc:creator>Edi Psw</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Feb 2008 05:39:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://edipsw.com/?p=134#comment-1064</guid>
		<description>&#187; Redi Yuniansuro :
Memang sebenarnya siap pakai mental itu lebih penting daripada siap pakai ketrampilan. Nggak usah jauh-jauh. Bos saya dulu hanya bisa sedikit tentang komputer, padahal perusahaannya bergerak dalam bidang pendidikan komputer. Tapi dia mempunyai siap pakai mental yang bagus sehingga bisa mengendalikan perusahaan dengan baik.

&#187; Det :
SIAP PAKAI merupakan kata pasif, Mas. Kalau diberi imbuhan &quot;di&quot; justru mempunyai konotasi negatif. Kata &quot;DIPAKAI&quot; berarti yang digunakan orangnya, seperti Wanita Dipakai, dll.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>&raquo; Redi Yuniansuro :<br />
Memang sebenarnya siap pakai mental itu lebih penting daripada siap pakai ketrampilan. Nggak usah jauh-jauh. Bos saya dulu hanya bisa sedikit tentang komputer, padahal perusahaannya bergerak dalam bidang pendidikan komputer. Tapi dia mempunyai siap pakai mental yang bagus sehingga bisa mengendalikan perusahaan dengan baik.</p>
<p>&raquo; Det :<br />
SIAP PAKAI merupakan kata pasif, Mas. Kalau diberi imbuhan &#8220;di&#8221; justru mempunyai konotasi negatif. Kata &#8220;DIPAKAI&#8221; berarti yang digunakan orangnya, seperti Wanita Dipakai, dll.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: det</title>
		<link>http://www.edipsw.com/opini/pemahaman-konsep-siap-pakai/#comment-1044</link>
		<dc:creator>det</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 Feb 2008 02:43:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://edipsw.com/?p=134#comment-1044</guid>
		<description>wah... kalo siap pakai saja masih kurang pak. pakai itu kata netral, harus diberi imbuhan biar jelas. SIAP DIPAKAI atau SIAP MEMAKAI

SIAP DIPAKAI: begitu lulus kerja ke orang. biasanya juga tidak bisa langsung bisa dipakai untuk melakukan tugas tertentu, harus ada training/orientasi

SIAP MEMAKAI: begitu lulus siap memakai lulusan lain yang siap dipakai. kelompok ini punya keberanian memulai atau meneruskan usaha dan mimpi yang nyata untuk sukses

tinggal mau pilih mana?!

&lt;em&gt;det&#039;s last blog post..&lt;a href=&#039;http://deteksi.blogdetik.com/2008/02/23/rebut-saja/&#039; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Rebut saja!&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wah&#8230; kalo siap pakai saja masih kurang pak. pakai itu kata netral, harus diberi imbuhan biar jelas. SIAP DIPAKAI atau SIAP MEMAKAI</p>
<p>SIAP DIPAKAI: begitu lulus kerja ke orang. biasanya juga tidak bisa langsung bisa dipakai untuk melakukan tugas tertentu, harus ada training/orientasi</p>
<p>SIAP MEMAKAI: begitu lulus siap memakai lulusan lain yang siap dipakai. kelompok ini punya keberanian memulai atau meneruskan usaha dan mimpi yang nyata untuk sukses</p>
<p>tinggal mau pilih mana?!</p>
<p><em>det&#8217;s last blog post..<a href='http://deteksi.blogdetik.com/2008/02/23/rebut-saja/' rel="nofollow">Rebut saja!</a></em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Redi Yuniansuro</title>
		<link>http://www.edipsw.com/opini/pemahaman-konsep-siap-pakai/#comment-1042</link>
		<dc:creator>Redi Yuniansuro</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 Feb 2008 01:12:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://edipsw.com/?p=134#comment-1042</guid>
		<description>Sangat setuju ....... terutama pada mental kita. karena seberapapun bagusnya suatu program yang ditawarkan oleh lembaga pendidikan , tetapi tidak diikuti oleh mental yang bagus dalam merespon program dan meng aplikasikannya di lapangan . semuanya akan mentah . asalnya dari kertas akan kembali menjadi kertas, belaka., kosong .... saya tidak menyalahkan siapa - siapa , hanya risih bila memikirkan hal ini....

&lt;em&gt;Redi Yuniansuro&#039;s last blog post..&lt;a href=&#039;http://batarigitatrimurticom.blogspot.com/2008/02/mau-ikutan-survey.html&#039; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;MAU IKUTAN SURVEY ?&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sangat setuju &#8230;&#8230;. terutama pada mental kita. karena seberapapun bagusnya suatu program yang ditawarkan oleh lembaga pendidikan , tetapi tidak diikuti oleh mental yang bagus dalam merespon program dan meng aplikasikannya di lapangan . semuanya akan mentah . asalnya dari kertas akan kembali menjadi kertas, belaka., kosong &#8230;. saya tidak menyalahkan siapa &#8211; siapa , hanya risih bila memikirkan hal ini&#8230;.</p>
<p><em>Redi Yuniansuro&#8217;s last blog post..<a href='http://batarigitatrimurticom.blogspot.com/2008/02/mau-ikutan-survey.html' rel="nofollow">MAU IKUTAN SURVEY ?</a></em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

