Porno Anak Kian Merebak

Februari 23, 2009 · Posted in Pornografi 

pornografi pada anakUsaha pemerintah untuk menekan pornografi di negara kita tampaknya belum maksimal. Ini terbukti dengan masih banyaknya media yang berbau pornografi yang beredar terutama lewat internet, walaupun sudah dikeluarkan undang-undang anti pornografi. Bahkan kini sudah merambah ke anak-anak.
Benda-benda berteknologi tinggi seperti telepon seluler dan komputer kini sudah tidak asing lagi bagi anak-anak usia dini. Apalagi sudah banyak Sekolah Dasar (SD) yang memperkenalkan teknologi ini kepada murid-muridnya. Tak heran jika anak-anak sekarang rata-rata tidak canggung lagi saat berhadapan dengan gadget modern seperti ponsel, VCD, komputer, bahkan internet.

Pemandangan dari anak-anak yang menghabiskan waktu di warung internet (warnet) seolah sudah menjadi hal yang lumrah. Ada yang gemar bermain games secara online, sampai sekedar membuka situs-situs. Mereka juga sudah biasa mengakses situs-situs pertemanan yang sekarang sedang marak seperti friendster dan facebook. Sayangnya kemajuan teknologi ini tidak selalu membawa dampak positif bagi perkembangan anak.

Demikian menurut “Reportase Investigasi” yang ditayangkan oleh Trans TV hari Sabtu, 21 Pebruari 2009 lalu.

Dalam tayangan yang dimulai pukul 16.30 WIB itu, tim investigasi menemukan beberapa anak yang baru duduk di kelas 5 SD, yang mengaku bahwa salah seorang temannya memperlihatkan gambar porno yang tersimpan di dalam telepon seluler miliknya.

Melalui situs pencari di internet, anak-anak seusia belia ini biasa mencari dan mengunjungi situs porno. Bahkan mereka hafal nama situs yang harus diketik di kotak pencarian.

Di sekolah mereka tidak ada mata pelajaran pengenalan internet dan cara menggunakannya, namun tanpa itupun anak-anak ingusan ini sudah bisa mengakses situs-situs tersebut lewat warnet. Kebanyakan dari mereka mengaku bisa karena diajarkan oleh teman-temannya.

Lantas tim investigasi mencoba membuktikan sendiri, apakah situs tersebut benar-benar bisa diakses atau tidak. Hasilnya situs tersebut memang ada dan bisa dibuka. Tampilan pertama langsung disuguhi gambar-gambar yang sungguh tidak layak dilihat dan ditonton oleh anak-anak.

Selain lewat warnet, telepon seluler atau handphone (HP) bisa menjadi salah satu media untuk mengakses situs porno. Tim investigasi menemui seorang anak yang duduk di bangku kelas 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP), sebut saja namanya Opak. Ia mengaku telah mempunyai ponsel atau HP sejak duduk di kelas 6 SD.

Kebanyakan orang tua membelikan anaknya ponsel atau HP hanya karena alasan sepele, demi gengsi atau status sosial. Alasan lain karena tidak tahan mendengar si anak merengek minta HP yang sedang trend. Ada pula yang beralasan fungsional, untuk memudahkan komunikasi dengan anaknya.

Sayangnya HP ternyata bisa disalahgunakan oleh anak-anak. Apalagi jenis HP yang dilengkapi dengan fasilitas multimedia, seperti kamera, infrared, atau bluetooth.

Bahaya HP ini bukan tidak disadari oleh para orang tua. Salah satu orang tua bahkan mengaku anaknya pernah mendapat masalah dengan pihak sekolah karena kedapatan menyimpan video porno di HP miliknya.

Banyak orang tua tidak sadar, perangkat komunikasi ini bisa membuat anak terkontaminasi pornografi. Masalah lainnya adalah bebasnya peredaran VCD porno. Anak-anak pun dengan gampang bisa mendapatkannya.

HP atau telepon seluler memang bukan lagi barang langka di kalangan anak-anak. Bahkan penggunakan HP seolah sudah menjadi trend bagi mereka. Sayangnya, alat komunikasi yang sedang ngetrend saat ini disalahgunakan.

Banyak orang tua yang tak sadar, tanpa harus pergi ke warnet pun seorang anak sebenarnya bisa mengakses internet melalui HP-nya. Apalagi beberapa provider telepon seluler memberikan tarif yang sangat murah untuk mengakses internet dari HP. Misalnya untuk men-download tiga buah video dengan durasi 2 hingga 3 menit, pemilik HP hanya dikenakan tarif Rp 1.000,- sampai Rp 2.000,-

Kemudahan inilah yang kerapkali dimanfaatkan oleh Opak. Tidak hanya itu, fasilitas seperti bluetooth juga dijadikan sebagai ajang untuk bertukar video porno dengan teman-teman, apalagi mengirim data seperti ini tidak dikenakan biaya sepeserpun.

Bagi Opak dan teman-temannya, kegiatan menonton video porno awalnya sekedar event dan untuk memuaskan rasa ingin tahu. Hobby terlarang ini seolah mendapat penyaluran berkat longgarnya penjualan VCD porno di pasaran.

Sama seperti Opak dan teman-temannya, Andi mengaku sudah pernah menonton film porno sejak duduk di kelas 4 SD, dan hobby-nya itu terus berlanjut sejak kini saat ia duduk di kelas 2 SMP.

Bermula dari coba-coba kini Andi mengaku hobby mengoleksi film porno. Biasanya ia membeli keping CD dari hasil mengumpulkan uang bersama kawan-kawannya.

Lingkungan anak-anak ini memang saling mempengaruhi. Ajakan teman, iseng ingin tahu, biasanya menjadi awal mula anak-anak mengenal film porno. Biasanya nonton bareng ini dilakuan oleh 7 sampai 9 anak.

Meski awalnya merasa terancam, sekarang Andi mengaku ketagihan menonton film porno. Dan karena tidak mempunyai uang lebih seperti teman-temannya yang lain, ia lebih sering meminjamnya.

Menurut Andi, ia pun kerap menonton di kamarnya. Ini dilakukan pada malam hari ketika semua orang di rumahnya sedang terlelap. Apalagi ia memang memiliki televisi sendiri di kamarnya.

Parahnya, selain dari pergaulan akses anak-anak terhadap film porno tak jarang diperoleh dari koleksi milik orang tua mereka sendiri. Tanpa pengawasan dari orang tua, kecanggihan teknologi justru bisa membahayakan anak-anak. Kebanyakan orang tua memang tidak menyadari bahwa anak-anak jaman sekarang sudah lebih pandai memahami teknologi jika dibandingkan para orang tuanya.

Selain HP, komputer juga bisa menjadi media untuk mengakses film porno. Parahnya, tidak sedikit orang tua yang justru merasa bangga bisa memfasilitasi anaknya dengan komputer atau laptop yang diletakkan dalam kamar si anak.

Tanpa disadari anak-anak yang telah menyaksikan film porno di usia dini akan terkena dampak negatif. Secara hormonal anak-anak ini sebenarnya sudah bisa merasakan rangsangan secara seksual ketika menonton. Dari menonton tak jarang ada yang merasa penasaran untuk mencoba.

Rangsangan seksual yang terjadi pada anak-anak bisa berakibat fatal bagi mentalnya. Selain ketagihan yang paling parah adalah mereka tidak memiliki tempat penyalurannya. Bahkan banyak kasus-kasus perkosaan yang pelaku serta korbannya juga anak-anak.

Anak-anak adalah generasi yang seharusnya dijaga dan di jauhkan dari hal-hal yang berbau pornografi. Mereka hanyalah korban kemajuan teknologi yang tidak terkontrol. Sebagai orang tua yang hidup di era teknologi sudah sepantasnya tidak menutup mata dan selalu bersikap waspada.

Gambar diambil dari sini.

Kata kunci yang masuk:

film blue anak kecil (1), video bokep yang bisa dibuka di hp (1)

Comments

51 Responses to “Porno Anak Kian Merebak”

  1. meylya on Februari 23rd, 2009 11:37 am

    mau cumment kok ugag isa

  2. meylya on Februari 23rd, 2009 11:40 am

    moral generasi penerus bangsa ini memang semakin hancur

  3. arifudin on Februari 23rd, 2009 11:49 am

    ya memang kita harus secara bijak dlam menanggapi kemajuan teknilogi informasi saat ini pak, dan memang kita harus lebih mengontrol anak2 dalam membuka situs2 internet :)

  4. Wempi on Februari 23rd, 2009 1:36 pm

    penyedia jasa layanan internet sebaiknya diwajibkan memfilter.
    seperti tv berlangganan, kita dapat ngasih tau penyedia layanan untuk memblokir channel tertentu supaya tidak masuk ke rumah.

  5. thegands on Februari 23rd, 2009 2:05 pm

    memang memprihatinkan. malahan ada orang yang nyuruh anak kecil buat beli film bok*p. Namanya juga anak2, jadi tinggal di sogok “permen” pasti si anak mau..

  6. dafhy on Februari 23rd, 2009 2:48 pm

    iya pak.sekarang anak2 kecil ke warnet malah cari situs2 porno.
    hem mental generasi muda indonesia yang bobrok kah?

  7. Kuro on Februari 23rd, 2009 4:37 pm

    Wah ini dia bukti dr kurang perhatian nya para orang tua pada anaknya dan lingkungan sepertinya sangat berpengaruh jadi pak, bapak khan guru komputer kudu waspada sama anak biar anak2 ga membuka situs2 porno

  8. Danta on Februari 23rd, 2009 5:31 pm

    Kemajuan Teknologi tidak hanya mendatangkan dampak positif.. wah.. harus hati2 nih..

  9. endar on Februari 23rd, 2009 7:23 pm

    untung masa kecilku belum ada hape dan internet

  10. budiOno on Februari 24th, 2009 6:33 am

    dulu jaman blm ada hp, komputer dan internet, pornografi anak juga sudah marak. penyebabnya adalah para orang tua yang sembrono berhubungan badan di dekat anak yang sedang tidur. ternyata sang anak bangun karena suara desahan orang tua mereka dan akhirnya mendapatkan pelajaran sex secara langsung

  11. ichanx on Februari 24th, 2009 7:53 am

    kalo mo protes, susah… bakal ditentang ama para kontra UU APP…. ntar kita malah disangka gak toleran… hehe

  12. emfajar on Februari 24th, 2009 9:56 am

    yah konsekuansi dari kemajuan teknologi ini pak..

    yang paling diperlukan adalah kontrol dari ortu jg..

  13. Suwahadi on Februari 24th, 2009 10:15 am

    Yang katanya pemerintah udah nge-blokir situs² porno, ternyata masih banyak juga yang lolos.
    Ataukah pemerintah emang ‘cuek’ dengan masalah kayak gini ya? :(

  14. Raffaell on Februari 24th, 2009 10:18 am

    Apalagi game bajakan bokep, hentai, wahhh kaco deh…. hidup kaya gini mending tinggal di desa aja daripada di kota pikiran jadi brutal

  15. siwi on Februari 24th, 2009 10:54 am

    Iya ya..
    sekarang udah semakin tidak terkontrol aja.
    Harus orang tuanya yang proaktif mengawasi anaknya, memberikan bekal pengetahuan, agama dan kesadaran pribadi kepada mereka.
    Heqeqe.. teorinya sih gampang ya..
    Ngelaksanakannya? Hehe.. Aku juga belum tahu :P

  16. rita on Februari 24th, 2009 12:08 pm

    Ini nih yang buat di rumah gak langganan inet diluar, kalo yg dari kantor di protect, jadinya aman.
    Iya mas, nonton bareng ini yg sering dikhawatirkan khususnya kami disini karena line inet masi blum sebebas di luar Sorowako. Untuk mencegah “nonton bareng” pihak orang tua dan sekolah mengatur sedemikian rupa agar anak2 tidak punya banyak waktu untuk itu. Untuk SMP di Sorowako, bubar jam 4 sore, setelah itu hampir semua anak masi ada ekskul setalh pulang sekolah misalnya tennis, tae kwond do (maaf kalo sala tulis) english club dan banyak lagi sehingga sianak sudah tidak punya waktu untuk melakukan hal2 diluar jadwal, karena udah kecapean. Oya utk anak SD, kelas 3 keatas sekolah usai pada jam 3 sore.

  17. harianku on Februari 24th, 2009 12:18 pm

    memang cukup meresahkan perkembangan teknologi yang ada pada saat ini mas, namun hal itu apabila mendapat bimbingan tentang pemahaman akan keburukan gambar dan film porno dari orang tua atau guru tentunya akan memperkecil kemungkinan hal tersebut merusak moral para penerus bangsa.

  18. nugraha on Februari 24th, 2009 12:19 pm

    hmm.. bener kang. solusinya kira2 gimana ya?

  19. suwung on Februari 24th, 2009 12:32 pm

    lebih bahaya mana ya visrus porno dengan virus soewoeng?

  20. balladona on Februari 24th, 2009 1:32 pm

    IPTEK memang memiliki manfaat sekaligus membawa dampak yang negatif bagi kemjuan generasi muda bangsa ini. Kalo gag ada filter atau self control yang kuat, bisa hancur dan bobrok moralnya.

  21. Tuyi on Februari 24th, 2009 1:40 pm

    Iya nih Pak…
    saya juga khawatir dengan anak saya yang sudah mulai bisa internet..

  22. jiyofine on Februari 24th, 2009 2:31 pm

    Bingung emang!
    Semakin berkembang teknologi, semakin pula banyak dampak negatifnya dan positifnya. Mungkin pondasi mental dan iman yang kuat yang bisa mencegah itu.

  23. izandi on Februari 24th, 2009 3:57 pm

    berarti orangtua harus semakin aktif dalam menjaga anaknya ya
    lho saya kan anak2 :D

  24. enggink on Februari 24th, 2009 4:33 pm

    bener pak, saya jg merasa sangat iri sekali dengan anak2 jaman sekarang. jaman anak2 dulu buat dapetin yang seperti itu susah banget :mrgreen:
    asli bcandaaaaaaaaaaaaa

  25. Imam Syatibi on Februari 24th, 2009 5:01 pm

    mungkin pendidikan budi pekerti harus diadakan lagi di sekolah-sekolah ya, Bos? :mrgreen:

  26. deadyrizky on Februari 24th, 2009 5:02 pm

    anak” jaman sekarang serba dibebasin sih
    lagian arus informasi mengalir deras
    susah mo nyalahin siapa
    jalan tiga”nya ya lewat orang tua, brain storming dan pengembangan akhlak

  27. Artha on Februari 24th, 2009 6:00 pm

    Kewaspadaan kita sebagai orang tua musti di tingkatkan. Pendidikan sex semestinya dapat kita terapkan terhadap anak sejak dini. sehingga anak anak memahami apa yang benar tentang sex tersebut. bukan di tutup-tutupi karena tabu

  28. sunardi on Februari 24th, 2009 7:27 pm

    Ayo kita galakkan kampanye Internet Sehat.

    :D Biar semua ikut waspada dan memberi atensi.

  29. Mufti AM on Februari 24th, 2009 8:56 pm

    Kontrol sosial mestinya dilakukan berbagai pihak. Pemilik warnet pun mestinya bisa lebih serius dalam memfilter hal-hal berbau porno ini. UU pornografi rasanya masih belum efektif dalam hal ini.

  30. sawali tuhusetya on Februari 24th, 2009 10:19 pm

    kemajuan teknologi memang bisa membuat anak2 mengalami salah suai alias maljusted, pak edi. tapi kita ndak bisa menjadikan teknologi sbg kambing hitam karena ndak bisa ditolak kehadirannya. yang justru perlu dilakukan adalah kontrol dari orang tua dan terdekat agar anak2 bisa menggunakan media teknologi secara cerdas.

  31. ciwir on Februari 24th, 2009 11:14 pm

    teknologi membuat kita gampang berbuat apa saja.

  32. Norjik on Februari 24th, 2009 11:17 pm

    Sungguh benar-benar jaman yang sdh jauh berbeda dg jaman saya dulu.Kini org tua harus lbh protektif terhadap anak2nya yg msh belia.

  33. phiy on Februari 24th, 2009 11:54 pm

    salah satu resiko majunya IT-nih,
    anak2nya mustinya diawas dalam menggunakan perangkat IT, terlalu rentan soalnya :roll:

  34. antown on Februari 25th, 2009 4:33 am

    sepakat sama komeng @phiy, memang dilematis menyikapi soal kebutuhan teknologi ini. Di saat kita memanjakan diri kepada mereka justru yang terjadi adalah fatal karena disalahgunakan. aku dadi bingung mas, piye carane yen duwe anak sesuk…

    makasih untuk tulisannya. gmn kabarnya? sehat?

  35. Yari NK on Februari 25th, 2009 5:51 am

    Setiap teknologi pasti mempunyai dua sisi seperti mata uang, sisi yang baik dan sisi yang buruk. Masalahnya bukan pada si anak melainkan pada orang tuanya yang tidak pernah mendampingi anaknya dalam berinternet ria dan orang tua juga tidak tahu cara pencegahan yang baik untuk anak2 agar mereka tidak mengakses situs porno. Insya Alah, jika orang tua cerdas dalam mengedukasi anak2nya, anak2 kita tetap akan memiliki moral yang baik sekaligus memiliki pengetahuan yang baik pula. :)

  36. ry0n on Februari 25th, 2009 8:57 am

    wah parah tuh pak.. kelas 5-6 SDD dah bisa kayak gtuan.. ga kayak jaman dulu ya.. kelas 5-6 SD masih bau kencur ~_~

  37. escoret on Februari 25th, 2009 10:26 am

    batasan porno itu apa tho om..????

  38. thimbu on Februari 25th, 2009 11:36 am

    mau jadi apa anak2 jaman sekarang, ya…hehehehehe

  39. ridu on Februari 25th, 2009 11:42 am

    sayangnya pihak pengelola warnet gak mendukung dalam kegiatan mencegah pengaksesan pornografi di masyarakat terutama bagi anak anak di bawah usia

  40. joe on Februari 25th, 2009 11:42 am

    Di sini peranan orang tua mutlak harus diperhatikan, jika tidak mau jadi apa bangsa ini?

  41. anas on Februari 25th, 2009 12:43 pm

    bikin miris bgt bang.
    palagi akses internet makin mudah n murah aja.

  42. Nyante Aza Lae on Februari 25th, 2009 2:35 pm

    kita mmg hrs meningkatkan kepedulian yg diwujudkan dengan kontrol yg efektif!

  43. zee on Februari 25th, 2009 3:03 pm

    Wah kemana komen saya yg td ya?
    Orangtua sekarang jg harus melek teknologi, biar tahu menyaring apa yg blm pantas untuk anak2nya.

  44. adit on Februari 26th, 2009 8:38 am

    apa mungkin ini akibat dari kecangihan teknologi? ato karena kurangnya pendidikan serta pengawasan dari orang tua?

  45. tuannico on Maret 1st, 2009 5:47 pm

    hadoohh..

    anak anak itu ngaLahin sayah.. gawat.. hha.

    bysa nya si om kaLau ada anak2 yang kebetuLan ngenet di warnet yang sama dengan sayah, mereka pasti sudah bisa sayah tebak mau ngapain..

    ya browsing gambar2 “ajaib” kayak gitu biasa nya..

    untuk masa keciL sayah teknoLogi ga terLaLu wah seperti sekarang.. hhe

  46. hade on Maret 3rd, 2009 2:54 pm

    Kalau membicarakan hal satu ini jadi bingung. Anak-anak sangat mudah mengkases pornografi….., bahkan sangat dekat!

  47. genthokelir on Maret 3rd, 2009 2:55 pm

    kemarin komentar sempat masuk kranjang spam ya kang
    memang di sadari betul kemajuan tehnologi kadang membuat kebablasan hingga sangat perlu sekali di butuhkan kontrol kuat dari yang lebih tua untuk meminimalisir kemungkinan yang tidak kita inginkan

  48. Juliach on Maret 4th, 2009 10:55 pm

    Kenapa membiarkan anak ke warnet sendirian? Apa tidak lebih baik punya langanan di rumah? Tinggal pasang “control parental” secara otomatis dan manual.

    Kalo aku sih, setiap kali anakku pakai internet, maka aku selalu duduk di sisinya. Anakku tidak berhak menggunakan notebookku tanpa seijinku.

    Aku sendiri tidak pernah membiarkan ada komputer/TV di kamar anak-anak. Jika pun dia mo main ke rumah temannya, aku selalu berkomunikasi dengan orang tua temannya. Untuk memastikan orang tua mereka ikut bertanggung jawab dalam mengawasi anak-anaknya. Aku tak akan membiarkan dia bermain ke rumah temannya saat orang tuanya tidak ada di rumah.

  49. davidyes on Maret 6th, 2009 5:33 pm

    sebenarnya ilmu itu bisa baik dan buruk tergantung cara kita menyampaikannya.

  50. zepanesezero on Mei 11th, 2009 7:14 pm

    Masalah ini sebenernya bukan cuma pemerintah yang turut ambil dalih, pemilik warnet sebaiknya harus menyediakan filter untuk mem-blok website atau material yang berbau pornografi.

    Memang harganya relatif mahal kalau dengan mambeli online software filtering, tapi kalau pemilik warnet tidak mengambil aksi ini maka sebenarnya ada masalah dengan moral sang pemilik warnet tersebut!

    Semustinya peran orangtua juga penting, kebanyakan orangtua agak ‘gaptek’ dengan masalah media baru ini, tetapi alangkah baiknya demi kebaikan anak mereka, apakan orangtua tidak mau belajar untuk memandu anak mereka menjelajadi dunia virtual yang baru itu dan untuk mengindarkan dari trauma psikologis terhadap materi pornografi.

    orangtua sebaiknya mengontrol informasi yang masuk ke anak mereka… dan sex education itu lumayan penting buat mencegah informasi yang salah masuk ke pikiran bawah sadar generasi baru Indonesia

  51. LeNz on Juni 21st, 2009 8:11 am

    PENERUS BANGSA SUDAH HANCUR …