joker123 pussy88 xe88 mega888 viagra malaysia keto actives super 8 ways ultimate Porno Anak Kian Merebak – www.edipsw.com
Download! Download Smart Rapor Entry versi terbaru

Porno Anak Kian Merebak

pornografi pada anakUsaha pemerintah untuk menekan pornografi di negara kita tampaknya belum maksimal. Ini terbukti dengan masih banyaknya media yang berbau pornografi yang beredar terutama lewat internet, walaupun sudah dikeluarkan undang-undang anti pornografi. Bahkan kini sudah merambah ke anak-anak.
Benda-benda berteknologi tinggi seperti telepon seluler dan komputer kini sudah tidak asing lagi bagi anak-anak usia dini. Apalagi sudah banyak Sekolah Dasar (SD) yang memperkenalkan teknologi ini kepada murid-muridnya. Tak heran jika anak-anak sekarang rata-rata tidak canggung lagi saat berhadapan dengan gadget modern seperti ponsel, VCD, komputer, bahkan internet.

Pemandangan dari anak-anak yang menghabiskan waktu di warung internet (warnet) seolah sudah menjadi hal yang lumrah. Ada yang gemar bermain games secara online, sampai sekedar membuka situs-situs. Mereka juga sudah biasa mengakses situs-situs pertemanan yang sekarang sedang marak seperti friendster dan facebook. Sayangnya kemajuan teknologi ini tidak selalu membawa dampak positif bagi perkembangan anak.

Demikian menurut “Reportase Investigasi” yang ditayangkan oleh Trans TV hari Sabtu, 21 Pebruari 2009 lalu.

Dalam tayangan yang dimulai pukul 16.30 WIB itu, tim investigasi menemukan beberapa anak yang baru duduk di kelas 5 SD, yang mengaku bahwa salah seorang temannya memperlihatkan gambar porno yang tersimpan di dalam telepon seluler miliknya.

Melalui situs pencari di internet, anak-anak seusia belia ini biasa mencari dan mengunjungi situs porno. Bahkan mereka hafal nama situs yang harus diketik di kotak pencarian.

Di sekolah mereka tidak ada mata pelajaran pengenalan internet dan cara menggunakannya, namun tanpa itupun anak-anak ingusan ini sudah bisa mengakses situs-situs tersebut lewat warnet. Kebanyakan dari mereka mengaku bisa karena diajarkan oleh teman-temannya.

Lantas tim investigasi mencoba membuktikan sendiri, apakah situs tersebut benar-benar bisa diakses atau tidak. Hasilnya situs tersebut memang ada dan bisa dibuka. Tampilan pertama langsung disuguhi gambar-gambar yang sungguh tidak layak dilihat dan ditonton oleh anak-anak.

Selain lewat warnet, telepon seluler atau handphone (HP) bisa menjadi salah satu media untuk mengakses situs porno. Tim investigasi menemui seorang anak yang duduk di bangku kelas 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP), sebut saja namanya Opak. Ia mengaku telah mempunyai ponsel atau HP sejak duduk di kelas 6 SD.

Kebanyakan orang tua membelikan anaknya ponsel atau HP hanya karena alasan sepele, demi gengsi atau status sosial. Alasan lain karena tidak tahan mendengar si anak merengek minta HP yang sedang trend. Ada pula yang beralasan fungsional, untuk memudahkan komunikasi dengan anaknya.

Sayangnya HP ternyata bisa disalahgunakan oleh anak-anak. Apalagi jenis HP yang dilengkapi dengan fasilitas multimedia, seperti kamera, infrared, atau bluetooth.

Bahaya HP ini bukan tidak disadari oleh para orang tua. Salah satu orang tua bahkan mengaku anaknya pernah mendapat masalah dengan pihak sekolah karena kedapatan menyimpan video porno di HP miliknya.

Banyak orang tua tidak sadar, perangkat komunikasi ini bisa membuat anak terkontaminasi pornografi. Masalah lainnya adalah bebasnya peredaran VCD porno. Anak-anak pun dengan gampang bisa mendapatkannya.

HP atau telepon seluler memang bukan lagi barang langka di kalangan anak-anak. Bahkan penggunakan HP seolah sudah menjadi trend bagi mereka. Sayangnya, alat komunikasi yang sedang ngetrend saat ini disalahgunakan.

Banyak orang tua yang tak sadar, tanpa harus pergi ke warnet pun seorang anak sebenarnya bisa mengakses internet melalui HP-nya. Apalagi beberapa provider telepon seluler memberikan tarif yang sangat murah untuk mengakses internet dari HP. Misalnya untuk men-download tiga buah video dengan durasi 2 hingga 3 menit, pemilik HP hanya dikenakan tarif Rp 1.000,- sampai Rp 2.000,-

Kemudahan inilah yang kerapkali dimanfaatkan oleh Opak. Tidak hanya itu, fasilitas seperti bluetooth juga dijadikan sebagai ajang untuk bertukar video porno dengan teman-teman, apalagi mengirim data seperti ini tidak dikenakan biaya sepeserpun.

Bagi Opak dan teman-temannya, kegiatan menonton video porno awalnya sekedar event dan untuk memuaskan rasa ingin tahu. Hobby terlarang ini seolah mendapat penyaluran berkat longgarnya penjualan VCD porno di pasaran.

Sama seperti Opak dan teman-temannya, Andi mengaku sudah pernah menonton film porno sejak duduk di kelas 4 SD, dan hobby-nya itu terus berlanjut sejak kini saat ia duduk di kelas 2 SMP.

Bermula dari coba-coba kini Andi mengaku hobby mengoleksi film porno. Biasanya ia membeli keping CD dari hasil mengumpulkan uang bersama kawan-kawannya.

Lingkungan anak-anak ini memang saling mempengaruhi. Ajakan teman, iseng ingin tahu, biasanya menjadi awal mula anak-anak mengenal film porno. Biasanya nonton bareng ini dilakuan oleh 7 sampai 9 anak.

Meski awalnya merasa terancam, sekarang Andi mengaku ketagihan menonton film porno. Dan karena tidak mempunyai uang lebih seperti teman-temannya yang lain, ia lebih sering meminjamnya.

Menurut Andi, ia pun kerap menonton di kamarnya. Ini dilakukan pada malam hari ketika semua orang di rumahnya sedang terlelap. Apalagi ia memang memiliki televisi sendiri di kamarnya.

Parahnya, selain dari pergaulan akses anak-anak terhadap film porno tak jarang diperoleh dari koleksi milik orang tua mereka sendiri. Tanpa pengawasan dari orang tua, kecanggihan teknologi justru bisa membahayakan anak-anak. Kebanyakan orang tua memang tidak menyadari bahwa anak-anak jaman sekarang sudah lebih pandai memahami teknologi jika dibandingkan para orang tuanya.

Selain HP, komputer juga bisa menjadi media untuk mengakses film porno. Parahnya, tidak sedikit orang tua yang justru merasa bangga bisa memfasilitasi anaknya dengan komputer atau laptop yang diletakkan dalam kamar si anak.

Tanpa disadari anak-anak yang telah menyaksikan film porno di usia dini akan terkena dampak negatif. Secara hormonal anak-anak ini sebenarnya sudah bisa merasakan rangsangan secara seksual ketika menonton. Dari menonton tak jarang ada yang merasa penasaran untuk mencoba.

Rangsangan seksual yang terjadi pada anak-anak bisa berakibat fatal bagi mentalnya. Selain ketagihan yang paling parah adalah mereka tidak memiliki tempat penyalurannya. Bahkan banyak kasus-kasus perkosaan yang pelaku serta korbannya juga anak-anak.

Anak-anak adalah generasi yang seharusnya dijaga dan di jauhkan dari hal-hal yang berbau pornografi. Mereka hanyalah korban kemajuan teknologi yang tidak terkontrol. Sebagai orang tua yang hidup di era teknologi sudah sepantasnya tidak menutup mata dan selalu bersikap waspada.

Gambar diambil dari sini.

Komentar

51 Comments